Sering kali, tanpa disadari, orang dewasa memberi label pada anak: nakal, susah diatur, tidak fokus, atau terlalu aktif. Padahal, anak tidak pernah lahir membawa label buruk. Yang ada hanyalah fitrah—potensi alami yang sedang tumbuh dan mencari arah.
Setiap anak hadir ke dunia sebagai amanah, diciptakan dengan keunikan, kebutuhan, dan ritme tumbuh yang berbeda. Ketika perilaku anak terasa “menantang”, bukan berarti ada yang salah dengan anak tersebut. Bisa jadi, yang perlu diperbaiki justru cara pandang dan cara kita memahaminya.
Anak Bukan untuk Disalahkan
Dalam proses tumbuh kembang, anak sedang belajar mengenali emosi, mengelola energi, dan memahami dunia di sekitarnya. Mereka mengekspresikan diri melalui perilaku—bukan untuk membuat orang dewasa lelah, tetapi karena itulah bahasa yang mereka miliki saat ini. Tugas kita sebagai orang tua dan pendidik bukanlah menyalahkan, melainkan menuntun. Bukan memaksa anak menyesuaikan diri dengan ekspektasi orang dewasa, tetapi mendampingi agar fitrah mereka berkembang secara sehat dan seimbang.
Mengubah Masalah Menjadi Proses Belajar
Saat sudut pandang berubah, “masalah” tidak lagi dipandang sebagai kegagalan, melainkan sebagai sinyal:
- Apa yang sedang dibutuhkan anak?
- Apakah ia sedang lelah, bingung, atau belum mampu mengungkapkan perasaannya?
- Dukungan apa yang bisa kita berikan agar ia tumbuh lebih kuat?
Dengan pendekatan yang tepat, perilaku yang sebelumnya dianggap sulit justru bisa menjadi pintu masuk untuk membangun kedekatan, kepercayaan, dan karakter anak.
Menemani Anak dengan Kesadaran
Memahami fitrah anak membutuhkan kesabaran, empati, dan kesediaan untuk terus belajar. Ketika orang dewasa hadir dengan kesadaran ini, anak akan merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri—dan dari rasa aman itulah proses belajar yang sesungguhnya dimulai.
Karena pada akhirnya, anak tidak perlu diperbaiki. Mereka hanya perlu dipahami, diterima, dan dituntun dengan cinta.



