Hayat School Prewedding MKI,Suplemen Hayat Happy Wife, Happy Life

Happy Wife, Happy Life

“Teh, nikah tuh seru ga sih?”

Tanya seorang rekan yang baru lulus kuliah. Nah, kalo ada yang nanya gini semangat 45 jelasinnya. Dan paling seneng kalo yang nanyanya cowo, saya jadi bisa debat apa visi pernikahan, impian pernikahan? Apakah memilih pasangan karena cinta, fisik semata, atau punya visi yang jelas? Apakah memilih wanita untuk menjadi istri lalu melahirkan anak-anak saja, atau menjadi pendamping seiring sejalan dan menjadi ibu yang melahirkan generasi hebat, dan bersama-sama menghebatkan keluarga.

Suami dan istri punya peran sama pentingnya untuk membangun keluarga bahagia, dan itu artinya memahami bahwa peran suami dan istri adalah saling melengkapi. (sudah seringkan dengar pembahasan seperti ini, dan sering juga dengar bahwa “istri solehah adalah istri yang diridhoi suami” mudah-mudahan kalimat pamungkas itu juga dilengkapi bahwa “suami yang soleh, adalah yang paling baik akhlaknya pada keluarganya”

So, hari ini saya hanya akan focus pada bagaimana sebuah rumah yang bahagia itu dimulai dari Ibu yang Bahagia. Apakah berarti seorang ayah tidak bahagia? Atau anak-anak tidak bahagia? Hehe semuanya haruslah bahagia, hanya saja ada beberapa poin yang menjadikan seorang ibu menjadi dynamo kebahagiaan.  Dan dynamo itu akan berjalan pada operator yang baik yaitu suami.

So beberapa tipsnya 

  1. Awali dengan visi yang jelas
    a. Bapak ibu, apa sih visinya menikah? Kalo jawabannya “memiliki keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, pliss jangan main-main dengan kalimat sacral itu, jangan sekedar jadi retorika, tapi harus ada aksi nyata, kalo masih begitu abstrak, buat visi yang lebih konkrit, boleh pake rentang waktu, misalnya usia pernikahan kelima pengen haji bareng pasangan, pengen ngajak anak-anak belajar langsung dengan jalan-jalan keliling Indonesia di usia pernikahan 10 tahun, bikin acara seru tiap minggu buat stimulasi si kecil,  konkrit, jelas, terukur.
    b.      Para suami tanyalah istri anda tercinta apa impiannya? Bagaimana anda bisa membantunya mewujudkan impiannya? Begitu juga istri, tanyalah pada suami apa impiannya? Bagaimana cara ibu membantu suami mewujdukan passionnya? Nah ini biasanya akan menular pada anak-anak.


2.       Komunikasi yang menyenangkan
a.       Para suami tanyalah para istri “are you happy with me? Wow pertanyaan yang nyess banget kayanya ya, para ibu pernah ditanya kaya gini? Duh kalo ditanya kaya gini sama suami, baru ditanya doang, langsung dengan mantap saya bilang “I’m very happy with you” dan peluk si dia sebagai tanda terima kasih untuk pertanyaannya. Ternyata untuk nanya kaya gini aja sebenernya para suami itu rada empot-empotan, khawatir jawabannya jadi buah simalakama, hehe. So bu, jawablah dengan mesra “aku sangat happy, dan terima kasih sudah bertanya”
b.      Ibu-ibu tuh pengen suaminya peka, misalnya kalo lagi repot paling emoh minta tolong suami, berasa segala bisa, jadi kadang kudu para ayah ini yang peka, sekedar ditanya “yank, perlu dibantu?” nah bagusnya jawaban si ibu “terima kasih sayang sudah bertanya, bisa bantu sedikit yang ini….” Kalo suaminya ga peka, nah waktunya si ibu yang minta tolong, suarakan dengan lantang, ga usah nunggu si do’I peka, jadi peluklah dengan mesra sambil bilang “yah, tolong bunda mandiin anak-anak ya” hehe


3.       Pahami bahasa cinta pasangan
Bahasa cinta anda biasanya dengan kata-kata atau sentuhan? Nih kudu tahu ya wahai para bapak dan para ibu, misalnya apakah dengan mengatakan I love you, pake sms, whats app, we chat, inbox fb, atau langsung menatap matanya dan mengatakan I love you, atau dengan memeluknya ketika tidur, memegang tanganya ketika berjalan bersama, menggandengnya, asal jangan memegang tas tangan para ibu ya pa, bapak lebih gagah kalo gendong anak yang beratnya belasan kilo dari pada gendong tas tangan ibu yang cuman setengah kilo. So pahami bahasa cinta pasangan, apakah dengan kata-kata atau sentuhan atau dua-duanya, hal-hal yang kelihatannya sepele tapi mengakrabkan


4.       Beri istri Quality time
Pekerjaan rumah tangga bagi seorang ibu yang tidak bekerja ataupun ibu bekerja sama melelahkannya, harus on terus selama 24 jam, dari senin sampai minggu, so jika kita bekerja sama bisa libur di hari sabtu-minggu, maka beri ibu waktu untuk menikmati dirinya sendiri, refresh lagi dirinya, istilahnya menemukan kembali soulnya, mau jalan-jalan kek, mau tilawah seharian, mau sekedar bersantai kaya dipantai, yang penting terbebas dari rasa khawatir akan pekerjaan rutin di rumah tangga, akhir pekan saatnya ayah turun tangan bersama pasukan merapikan rumah, ibu menjadi ratu di hari itu.

5. Saling memaafkan dan berterima kasihlah
menjelang tidur atau setelah solat, saling memaafkan dan berterima kasih untuk hari yang dijalani, akan melumerkan semua prasangka dan perilaku tidak menyenangkan yang telah dilakukan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Relate Post

X